|
Tadi siang, saat mau berwudhu untuk melaksanakan sholat Juhur, secara tidak sengaja aku melihat ada orang buta yang sangat kesulitan untuk keluar dari kamar mandi masjid Depdiknas. Sebagai informasi, masjid di Depdiknas ini memang penuh dengan anak tangga. Mau ke kamar mandi, ada tangga. Mau berwudhu, ada lagi anak-anak tangga walaupun sedikit.
Aku melihat, orang buta itu sangat kesulitan untuk memanjat tangga dan keluar dari kamar mandi Depdiknas. Walaupun sudah meraba-raba dengan menggunakan tongkatnya dan bersandar ke dinding, dia masih tetap kebingungan. Aku langsung spontan mendekatinya dengan agak berlari, menghampirinya dan menaikkan salah satu kakinya agar bisa merasakan anak tangga. Pelan-pelan, dia berusaha naik dengan meniti anak tangga satu demi satu. Aku ingin membantunya lagi, tapi ah biarlah. Aku rasa dia tak mau terlalu dibantu. Aku hanya memberi tahu saat anak-anak tangga yang dinaikinya sudah habis. Dia berjalan lagi, dan ada anak tangga lagi. Aku berusaha membantunya, tapi sepertinya dia sudah bisa berjalan dengan meraba-raba menggunakan tongkatnya.
Ya Alloh, orang buta itu...entah saat itu aku mengucurkan air mata atau tidak, aku tak ingat. Tapi yang pasti, aku sangat sedih saat itu. Aku masih kurang bersyukur dengan apa yang Alloh berikan padaku. Aku memang menggunakan kacamata, minus tinggi pula. Tapi aku masih bisa melihat dengan jelas dengan bantuan kacamata ini. Bahkan, dengan melepas kacamata pun, aku yakin, bahkan bisa aku pastikan, penglihatanku masih jauuuuh lebih baik dibandingkan orang buta itu. Aku masih bisa melihat sekelilingku tanpa menggunakan kacamata, walaupun agak buram. Tapi dia? Orang buta itu tidak bisa melihat indahnya dunia. Entah dia buta sedari kecil atau buta beberapa saat umur berapa, aku tak tahu. Yang pasti, dia tidak bisa melihat keindahan dunia. Sedangkan aku, masih bisa melihat indahnya dunia, dan masih bisa menggunakan mata ini untuk membimbingku bergerak dengan mudah ke sana kemari. Masih bisa menggunakan mata ini untuk mencari nafkah, dan terkadang pula kugunakan untuk melihat hal-hal yang tak pantas dan tak halal untukku.
Aku benar-benar masih kurang bersyukur. Itu baru mata. Belum lagi nikmat-nikmat yang lain dalam diriku. Aku memang punya banyak kekurangan dalam diriku, yang kadang menggangguku dalam kehidupan ini. Tapi, banyak orang yang lebih parah dariku. Ada ibu-ibu kenalanku yang tidak bisa berdiri lagi seumur hidupnya di umur sekitar 40 tahun, padahal beliau sebelumnya sangat aktif. Keluarganya kacau. Ya Alloh, semoga beliau sabar menanggung cobaan darimu itu. Lalu aku juga ingat Deni manusia akar yang diberitakan di televisi beberapa waktu yang lalu. Entah bagaimana kabarnya saat ini. Semoga dia bisa segera sembuh. Aku, memang punya penyakit menahun, tapi Insya Alloh, jika aku yakin dan terus berusaha, Insya Alloh dalam kurun waktu 1-3 bulan dari sekarang penyakit itu bisa hilang dari tubuhku. Cobaan ini memang menggangguku, tapi tidak begitu berat kalau dibandingkan apa yang dirasakan oleh orang-orang di sekelilingku yang mungkin lebih parah.
Belum lagi nikmat Islam, Iman, dan hidayah yang Alloh berikan padaku. Apakah orang buta itu diberikan oleh Alloh nikmat-nikmat tersebut, nikmat-nikmat yang bisa membantu seseorang untuk masuk surga selamat dari neraka? Entah, sekali lagi aku tak tahu. Dan parahnya, aku masih kurang bersyukur akan nikmat Alloh yang paling berharga itu. Berapa kali aku mengingat Alloh dalam sehari semalam? Masih sering aku mengingat Alloh saat selesai sholat wajib saja, itupun terkadang lewat kalau terburu-buru atau ngantuk (kalau subuh/isya). Seberapa sering aku menunda-nunda waktu sholat karena sibuk atau hanya bermain game? Seberapa sering aku hanya bangun dan mematikan alarm di HP-ku saat HP tersebut berbunyi pada pukul 3 dini hari dan lalu tidur lagi? Ya Alloh, betapa aku sangat kurang bersyukur atas apa yang telah engkau berikan selama ini. Ya Alloh, semoga dengan adanya orang buta itu mengingatkanku untuk lebih bisa bersyukur atas apa yang engkau berikan padakau. Kalaupun ada qodar jelek yang menimpaku, semoga aku masih bisa menanggungnya dan tidak putus asa, eperti syetan yang ngedumel saat diperintah untuk menyembah Nabi Adam oleh Alloh, tidak mau bertobat, dan malah bersedia merasakan siksa api neraka. Dan semoga engkau menggantinya dengan qodar baik yang tidak aku duga-duga sebelumnya.
Amiin
|